InfoPBUN
  • HOME
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • PAWISATA
  • NASIONAL
  • LEGISLATIF
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPR RI
    • DPD RI
  • EKSEKUTIF
    • Pemprov Kalimantan Tengah
    • Pemkab Lamandau
    • Pemkab Kotawaringin Barat
    • Pemkab Sukamara
  • DAERAH
    • Lamandau
    • Palangka Raya
    • Sukamara
No Result
View All Result
  • HOME
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • PAWISATA
  • NASIONAL
  • LEGISLATIF
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPR RI
    • DPD RI
  • EKSEKUTIF
    • Pemprov Kalimantan Tengah
    • Pemkab Lamandau
    • Pemkab Kotawaringin Barat
    • Pemkab Sukamara
  • DAERAH
    • Lamandau
    • Palangka Raya
    • Sukamara
No Result
View All Result
InfoPBUN
No Result
View All Result

Banjir Bandang Membuka Kebohongan Pengawasan dan Tata Kelola Lingkungan

Joko Hardyonoby Joko Hardyono
November 30, 2025
in BERITA
Bambang Purwanto: Dukungan Sistem Perpajakan yang Adil dan Pro Rakyat
Facebook
Facebook
fb-share-icon
Instagram
Tiktok

InfoPBUN, JAKARTA – Anggota DPR RI Dapil Kalimantan Tengah, Bambang Purwanto menyoroti bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi setiap tahun pada musim hujan tiba. Menurutnya kondisi ini semakin mengerikan dari tahun ke tahun bagi negeri tercinta.

“Apa salah dan dosa bangsa ini? Kenapa hal ini bisa terjadi? Guna menjawab kejadian ini tidaklah sulit, hanya perlu mawas diri dan kepedulian serta kecintaan terhadap negeri melalui tata kelola lingkungan yang konsisten,” tegas Bambang, Minggu (30/11) kepada InfoPBUN melalui pesan WhatsApp.

Bambang menyatakan bahwa musibah banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi berkali-kali bukan disebabkan faktor alam semata.

“Bencana ini akibat perubahan kawasan hutan menjadi perkebunan, tambang juga penebangan kayu maupun untuk pertanian tanpa tata kelola lingkungan yang benar dan pengawasan yang ketat, dan bukan menyalahkan alam karena curah hujan yang tinggi,” ujarnya.

Bambang menambahkan bahwa ekosistem alam telah diciptakan dalam kondisi seimbang sebagai sistem kehidupan yang sempurna.

“Ekosistem alam semesta diciptakan oleh Tuhan dalam kondisi seimbang dan sempurna, akan tetapi karena ulah pikiran dan tangan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup yang tak taat norma lingkungan menjadi bencana yang mematikan,” katanya.

Menurutnya, perubahan kawasan yang berskala besar tanpa memperhatikan norma lingkungan dan pengawasan tentu akan menyebabkan banjir, karena air hujan yang semula bisa terserap ke tanah sewaktu masih menjadi hutan dan ketika hutan di buka pasti air hujan meluncur ke bawah lereng yang sekaligus membawa material top soil, hal ini dikarenakan kondisi tanah tidak terikat lagi oleh akar-akar pohon.

“Kondisi ini sudah berjalan bertahun-tahun dan tentu menjadi sebab terjadinya pendangkalan sungai. Akibatnya ketika hujan deras turun semua akan meluncur ke sungai, sementara alur sungai sudah mengalami pendangkalan sehingga daya tampung alur sungai tidak mampu menampung air dan tentu air meluap kemana-mana menyebabkan banjir bandang,” paparnya.

Bambang juga menyoroti lemahnya tata ruang pemukiman penduduk di Indonesia.

“Sementara permukiman penduduk di negeri ini rata-rata di lembah-lembah yang dikelilingi bukit dan gunung tempat kawasan hutan berada. Ketika hutan berubah peruntukannya tanpa perlakuan lingkungan yang benar pasti akan menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor kemudian meluncur ke lembah di mana penuh permukiman penduduk dan menimbulkan bencana mematikan,” katanya.

Ia meminta semua pihak berhenti saling menyalahkan dan mencari kambing hitam pada cuaca.

“Peristiwa ini sudah terjadi, tidak usah saling menyalahkan dan jangan pula berdalih curah hujan tinggi. Saat ini yang diperlukan adalah solusi cepat dan tepat,” tegasnya.

Sebagai langkah penanganan, Bambang menawarkan sejumlah solusi konkret yang sudah pernah ia ajukan.

“Solusinya adalah membuat sumur-sumur resapan di wilayah perkebunan dan pertambangan sesuai kondisi kemiringan lahan dengan menghitung daya tampung air hujan pada lereng agar air hujan tidak langsung meluncur ke bawah dengan catatan kondisi bawah tanah bukan batu besar,” jelasnya.

Selain itu, ia menegaskan pentingnya merehabilitasi daerah aliran sungai dan memperbaiki tata kelola lahan pertanian.

“Selanjutnya mereboisasi daerah aliran sungai, sedangkan untuk lahan pertanian yang berada di lereng harus membuat teras ering secara bertahap yang pematangnya ditanami lamtoro atau rumput pakan ternak, kemudian normalisasi sungai-sungai yang berdampak besar,” lanjutnya.

Namun, Bambang mengaku kecewa karena usulan solusi tersebut belum ditindaklanjuti dengan serius.

“Solusi ini sudah pernah kami tawarkan ke KLHK beberapa tahun silam saat banjir bandang di Provinsi Kalimantan Selatan melalui instruksi Presiden, tapi karena kurang peduli dan cinta negeri dianggap angin lalu,” ungkapnya.

Di akhir pernyataan, ia mempertanyakan berapa banyak lagi korban yang masih harus jatuh sebelum penanganan dilakukan dengan benar.

“Terus, perlu korban harta benda dan nyawa saudara kita berapa lagi untuk menyadarkan kita semua akan bahaya ini?” tutupnya.

Tags: Bambang PurwantobanjirBanjir BandangDPRDPR RILongsor
Previous Post

Delang Hili Lanting Ecofest 2025: Wisata Sungai, Budaya Dayak, dan Antusias Turis Warnai Festival di Lamandau

Next Post

Delang Hili Lanting Ecofest 2025 Tarik Perhatian Wisatawan Mancanegara di Lamandau

Facebook
Facebook
fb-share-icon
Instagram
Tiktok
Next Post
Delang Hili Lanting Ecofest 2025 Tarik Perhatian Wisatawan Mancanegara di Lamandau

Delang Hili Lanting Ecofest 2025 Tarik Perhatian Wisatawan Mancanegara di Lamandau

  • Tentang InfoPBUN
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

Follow :

  • Tentang InfoPBUN
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

Follow :

No Result
View All Result
  • HOME
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • PAWISATA
  • NASIONAL
  • LEGISLATIF
    • DPRD Kotawaringin Barat
    • DPR RI
    • DPD RI
  • EKSEKUTIF
    • Pemprov Kalimantan Tengah
    • Pemkab Lamandau
    • Pemkab Kotawaringin Barat
    • Pemkab Sukamara
  • DAERAH
    • Lamandau
    • Palangka Raya
    • Sukamara

Copyright © 2026 InfoPBUN