InfoPBUN, PANGKALAN BUN – Asosiasi Bekisting Jepang menggelar seminar mengenai sistem kerja di sektor konstruksi Jepang dan pekerjaan bekisting, di Ball Room Hotel Mercure Pangkalan Bun, Kamis (27/8/2026).
Seminar tersebut diikuti sekitar 67 peserta yang terdiri dari pelajar dan guru dari sejumlah SMK di Kabupaten Kotawaringin Barat. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi pelajar untuk mengenal dunia kerja konstruksi di Jepang.
Pemateri dalam seminar tersebut datang langsung dari Jepang. Selain mendapatkan materi, peserta juga mengikuti demonstrasi dan praktik pekerjaan bekisting menggunakan miniatur atau model bekisting yang umum digunakan di Jepang. Ada juga informasi mengenai syarat dan cara untuk bekerja dibidang konstruksi di Jepang.
Ketua Asosiasi Bekisting Jepang Minowa Kenji menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah hadir. Ia juga mengapresiasi PT Brexa Raya Indonesia yang telah membantu menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa Asosiasi Bekisting Jepang berdiri pada 1975. Saat ini, asosiasi tersebut terdiri dari lebih dari 1.500 perusahaan konstruksi yang bergerak di bidang pekerjaan bekisting.
Bekisting menjadi salah satu unsur penting dalam pembangunan struktur bangunan di Jepang. Pekerjaan tersebut digunakan untuk membentuk struktur beton sebelum beton mengeras sehingga membutuhkan keterampilan, ketelitian dan pemahaman mengenai keselamatan kerja.
Jepang saat ini menghadapi persoalan penurunan angka kelahiran dan populasi yang semakin menua. Kondisi tersebut menyebabkan jumlah tenaga kerja menurun, termasuk tenaga kerja yang bergerak di bidang pekerjaan bekisting.
Karena itu, Jepang membuka peluang bagi tenaga kerja asing untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor, termasuk konstruksi. Peserta seminar mendapatkan penjelasan mengenai pekerjaan bekisting sekaligus sistem perekrutan tenaga kerja asing yang ingin bekerja di Jepang.
Beberapa jalur yang diperkenalkan adalah program resmi pemerintah Jepang melalui izin tinggal bagi pekerja asing yaitu Specified Skilled Worker (SSW) dan Employment for Skill Development Program (ESDP).
Shikano Naoya menyampaikan, melalui skema Specified Skilled Worker (SSW) atau Tokutei Gino, tenaga kerja asing dapat bekerja pada bidang yang membutuhkan pengetahuan dan pengalaman tertentu, termasuk infrastruktur, bangunan dan arsitektur.
Peserta juga diberikan gambaran mengenai sejumlah keuntungan bekerja di Jepang. Di antaranya gaji yang stabil, perlengkapan keselamatan kerja, asuransi, jaminan masa tua, pendidikan bahasa Jepang, serta pendidikan keterampilan dan keselamatan kerja.
“Upah di Indonesia pekerja konstruksi itu harian, kalau di Jepang bulanan dan besaran gaji sudah diatur pemerintah Jepang,” jelasnya.
Selain SSW, peserta diperkenalkan dengan sistem Pemagangan Teknis atau Gino Jisshu. Sistem tersebut dijadwalkan dihapus pada April 2027 dan digantikan dengan Employment for Skill Development Program (ESDP) atau Ikusei Shuro.
“Program ini dinilai dapat menjadi pilihan bagi calon pekerja yang belum percaya diri menggunakan bahasa Jepang dan belum memiliki keterampilan kerja,” Imbuhnya.
Peserta tidak harus lulus ujian bahasa Jepang terlebih dahulu, bisa juga dengan mengikuti persiapan belajar bahasa, budaya dan pengetahuan tentang Jepang sekitar empat hingga enam bulan.
“Peserta, bekerja sambil belajar di perusahaan. Dengan masa tinggal melalui program tersebut disebut mencapai tiga tahun,”. Ungkapnya.
Pada bagian akhir, peserta mendapatkan penjelasan mengenai alur pekerjaan bekisting, mulai dari membuat desain dan layout kerja, membuat bingkai kayu sesuai layout, pemasangan bekisting, proses pengecoran beton, hingga pembongkaran setelah beton mengeras.
Sambutan penutup dari Aramaki Takumi menjelaskan bahwa, penggunaan beton telah dikenal sejak masa lampau, termasuk pada bangunan-bangunan Romawi seperti Colosseum, dan hingga kini beton tetap menjadi bagian penting dalam struktur bangunan.
Di Jepang, pekerjaan bekisting tetap menggunakan kayu dan berkembang menjadi salah satu keahlian penting dalam konstruksi.
“Melalui seminar ini, kami berharap para pelajar SMK di Kotawaringin Barat tertarik mempelajari keterampilan konstruksi dan membuka peluang untuk bekerja di Jepang pada masa mendatang,” pungkasnya.
