InfoPBUN, PALANGKA RAYA— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah menjadi narasumber dalam kegiatan Pemaparan Hasil Community Vulnerability and Capacity Assessment (CVCA) dan penyusunan Sistem Peringatan Dini yang digelar di Alltrue Hotel Palangka Raya pada 7–8 Mei 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Konservasi Mawas yang dijalankan Yayasan BOS (Borneo Orangutan Survival Foundation) guna memperkuat kapasitas masyarakat dalam mendukung program Desa Tangguh Bencana (Destana).
Mewakili Kepala Pelaksana BPBD Kalteng, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalteng, Indra Wiratama, memaparkan pentingnya penguatan kesiapsiagaan melalui kolaborasi lintas sektor atau model Pentahelix.
Dalam paparannya, Indra menyebut Indeks Risiko Bencana (IRB) Kalimantan Tengah mengalami penurunan dari 117,48 pada tahun 2024 menjadi 104,76 pada tahun 2025. Meski demikian, Kalteng masih berada pada kategori risiko sedang sehingga diperlukan penguatan kesiapsiagaan masyarakat.
Menurutnya, sistem peringatan dini tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesiapan masyarakat dalam merespons informasi serta memanfaatkan pengalaman dan kearifan lokal yang ada di desa.
Kegiatan ini turut dihadiri berbagai unsur, mulai dari BMKG, BPBD kabupaten, akademisi, hingga aparatur desa untuk bersama-sama menyusun sistem peringatan dini berbasis masyarakat yang efektif dan berkelanjutan.

