
InfoPBUN, PANGKALAN BUN – Berjarak sekitar lima puluh meter di belakang SDN 6 Mendawai, Kelurahan Mendawai, Kecamatan Arut Selatan, Kotawaringin Barat, terdapat sebuah makam yang dianggap keramat oleh warga setempat.
Ada kisah menarik alasan mengapa makam itu dianggap keramat. Hal ini berkaitan dengan proses penemuannya yang terbilang unik. Peristiwa itu terjadi 65 tahun silam tepatnya sekitar tahun 1955.
Tokoh Masyarakat Mendawai Amir Husin menceritakan pada saat itu ada sekelompok warga Mendawai yang melakukan pembukaan hutan untuk dijadikan tempat berladang.
Saat tengah menebang pohon dan menebas rerumputan, salah satu di antaranya tak sengaja melihat dan menemukan sebuah makam berbentuk panjang dengan nisan batu di atasnya.
Anehnya, pada saat ditemukan kondisi makam dalam keadaan bersih dan terawat, tanpa ada rerumputan maupun ranting pohon di atas makam. Padahal kuburan itu berada di tengah hutan rimba.
Amir menjelaskan, pada awalnya masyarakat tidak tahu, siapa sosok dibalik makam keramat tersebut, dikarenakan saat ditemukan di tidak terdapat adanya tulisan maupun aksara di nisan makam.
Barulah di era tahun 80-an, ada warga dari tempat lain yang memiliki pengetahuan dan pengalaman spiritual memberanikan diri mencari petunjuk asal muasal makam keramat itu.
Dia menyebutkan jika orang dibalik makam merupakan seorang tokoh penyiar agama islam di masa lampau. Meski begitu, kapan dan bagaimana kiprah ulama ini semasa hidupnya belum diketahui.
“Nama Habib Hasyim Assegaf itu diketahui setelah Masdar (Warga Mendawai Seberang) belampah (bertapa) di lokasi makam,” jelas Amir Husin.
“Keramat itu berasal dari kata karomah, ada dua ciri makam disebut keramat, yang pertama tanah sekitar makam meninggi ke atas, yang kedua memanjang,” imbuh Amir Husin.
Terpisah, Muhammad Rakhman membenarkan bahwa baru-baru ini, Senin (30/1/2023), ada seorang habib dari Jakarta yang baru saja melakukan ziarah ke makam keramat tersebut.
“Ada seorang habib datang ke rumahku dari Jakarta. Yang datang namanya juga Habib Hasyim Assegaf juga. Sekarang sudah pulang,” kata Rakhman.
Bahkan diceritakan Rakhman, saat dirinya berada di Sampit, Kotawaringin Timur, ada warga setempat yang menanyakan perihal kepemilikan makam di Karang Anyar tersebut.