InfoPBUN, JAKARTA –Kebijakan Pemerintah menaikan harga gabah kering panen (GKP) merupakan langkah konkrit keberpihakan Pemerintah terhadap para petani padi dengan memberikan kepastian harga GKP sebesar Rp 6500 per kilogram. Kenaikan harga ini membuat petani lebih bergairah karena tidak kawatir lagi akan terjadi permainan harga gabah di tingkat petani ketika panen tiba.
Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Kalteng, Bambang Purwanto menyoroti gegap gempitanya para petani nampaknya masih menjadi angan-angan. Ketika hari ini sudah mulai panen seperti di Kabupaten Pulpis wilayah Blanti GKP di harga Rp 6500 tetapi di Tahai Rp 6000. Selanjutnya di Kabupaten Kapuas wilayah Tamban Catur dan Dadahub di harga Rp 6000.
“Lantas ke mana Bulog disaat petani panen kok tidak ada gerakan turun untuk menampung gabah petani, sesuai perintah Presiden,” ujar Bambang, Senin (18/2).
Menurut Bambang, hasil panen petani saat ini bervariasi, kisaran 3,5 hingga 9 ton per hektare, berdasarkan hasil panen ini menunjukan adanya potensi untuk memacu hasil produksi per hektarenya, artinya ada peluang bisa panen 9 ton per hektar.
“Kementan mestinya menangkap peluang ini selain membuka sawah baru juga memacu produksi tiap hektare sawah petani melalui bimtek agar petani memahami bagaimana memacu produksi padi secara optimal mulai pemilihan benih yang berkualitas dan cocok, pengolahan lahan yang baik serta perlakuan tanaman yang sesuai dengan karakter benih seperti contoh petani di Tahai yang mampu produksi 9 hingga 10 ton per hektare.
